Takhrij Hadits "صَلُّوا عَلَيَّ وَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ"
TAKHRIJ AL-HADITS
A.
Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an dan al-Hadis merupakan dua
sumber pokok ajaran Islam yang datang secara universal dan berangsur-angsur.
Ajaran-ajaran keduanya sangat erat kaitannya dengan kondisi dan situasi
kemunculannya, sehingga dalam memahami al-Qur’an dan al-Hadis membutuhkan
pemahaman secara komprehensif. Salah satu metode yang ditempuh dalam memahami
keduanya adalah metode tematik.
Meskipun keduanya menjadi sumber
utama ajaran Islam dan sama-sama membutuhkan metode tematik dalam memahaminya,
akan tetapi menurut penulis, yang sangat perlu dapat perhatian dengan metode
tematik ini adalah al-Hadis. Salah satu alasannya karena al-Hadis tidak
semuanya qath’i al-wurud (falid dari Rasulullah).[1]
Oleh karena itu, dibutuhkan takhrij al-Hadis (pembuktian kefalidan) dan
pemahaman yamg mendalam dengan menggunakan berbagai pendekatan, baik secara
tekstual, interteks maupun kontekstual. Disamping itu, al-Hadis maudhu’i
berguna untuk memperoleh sebuah kesimpulan dan pemahaman yang komperehensif,
baik yang terkait dengan definisi, maksud dan hukum yang dikandungnya.
Untuk mengetahui aplikasi metode
maudhu’i, ditetapkanlah judul sebagai sarana penerapan metode tersebut dalam
masalah ini adalah Hadits Nabi yang menyeru kita untuk bersholawat kepada Nabi
dan bersungguh-sungguh dalam berdo’a, seperti hadits berikut ini :
صلوا علي واجتهدوا
في الدعاء
Artinya: “bacalah
sholawat padaku dan bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a.”
Dalam hal ini penulis akan membicarakan sekaligus meneliti tentang
hadits
tentang Hadits Nabi yang menyeru kita untuk bersholawat
kepada Nabi dan bersungguh-sungguh dalam berdo’a. Sebagai insan akademis, penulis tidak langsung
menyimpulkan dari maksud hadits-hadits tersebut secara spekulatif maupun secara
logis, tetapi penulis lebih tertarik untuk mengkajinya terlebih dahulu secara
ilmiah sehingga bisa menyimpulkan hadits tersebut bisa digunakan atau tidak
sebagai dalil. Kajian ini di dalam ilmu Al-Hadits dinamakan Takhrij
Al-Hadits.
B.
Pembahasan
Hadits
:
صَلُّوا عَلَيَّ وَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ
Saya mencari hadits ini di dalam kitab al-Mu’jam al-Mufahras dengan manggunakan lafadz “jahada”, dan kami menemukannya pada Juz 1, huruf “Jim”, halaman 390 dan mendapati hadits tersebut dalam dua kitab hadits yaitu[2]:
· Dalam Sunan an-Nasai, Kitab سهو bab ke-52.
أَخْبَرَنَا سَعِيدُ
بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأُمَوِيُّ فِي حَدِيثِهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ
عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ مُوسَى بْنِ طَلْحَةَ
قَالَ سَأَلْتُ زَيْدَ بْنَ خَارِجَةَ قَالَ أَنَا سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ صَلُّوا عَلَيَّ وَاجْتَهِدُوا فِي
الدُّعَاءِ وَقُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ (
رواه النساء )[3]
Artinya: “Telah mengabarkan kepada kami Sa'id bin Yahya bin Sa'id Al Umawi dalam haditsnya dari Bapaknya dari 'Utsman bin Hakim dari Khalid bin Salamah dari Musa bin Thalhah dia berkata; aku bertanya kepada Zaid bin Kharijah lalu dia menjawab; "Aku bertanya kepada Rasulullah Shalallah 'Alaihi Wa Sallam, maka beliau bersabda: "Bershalawatlah kepada Rasulullah Shalallah 'Alaihi Wa Sallam, sungguhlah dalam berdoa, lalu ucapkanlah, 'ALLAHUMMA SHALLI 'ALA MUHAMMADIN WA'ALAA AALII MUHAMMAD' (Ya Allah, curahkanlah kesejahteraan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad).”
· Dalam Musnad Ahmad bin Hambal, Juz-1 halaman 199.
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ بَحْرٍ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ سَلَمَةَ أَنْ عَبْدَ الْحَمِيدِ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ دَعَا مُوسَى بْنَ طَلْحَةَ حِينَ عَرَّسَ عَلَى ابْنِهِ فَقَالَ يَا أَبَا عِيسَى كَيْفَ بَلَغَكَ فِي الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مُوسَى سَأَلْتُ زَيْدَ بْنَ خَارِجَةَ عَنْ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ زَيْدٌ :إِنِّي سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَفْسِي فَقُلْتُ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكَ قَالَ صَلُّوا وَاجْتَهِدُوا ثُمَّ قُولُوا اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ( رواه احمد بن حنبل )[4]
Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Ali bin Bahr telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin Hakim telah menceritakan kepada kami Khalid bin Salamah bahwa Abdul Hamid bin Abdurrahman mengundang Musa bin Thalhah ketika sedang mengadakan walimah putranya. Dia berkata; "Wahai Abu Isa, apa yang engkau ketahui tentang shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?" Maka Musa menjawab; Aku bertanya pada Zaid bin Kharijah tentang shalawat pada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka Zaid menjawab: Saya bertanya sendiri kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam; "Bagaimanakah cara shalawat kepada anda?" Beliau menjawab: "Shalatlah kalian dan bersungguh-sungguhlah, kemudian ucapkanlah: ALLAHUMMA BARIK 'ALA MUHAMMADIN WA 'ALA ALI MUHAMMAD KAMAA BAARAKTA 'ALA IBRAHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID. (Ya, Allah berilah berkah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji dan Maha Perkasa)."
Perawi dari jalur
Nasa’i :
·
Said bin yahya bin said
al-umawi ditemukan didalam kitab Tahzib al-Kamal
Juz 11 halaman 104 Nomor 2377.
·
Yahya bin said: ditemukan
didalam kitab Tahzib al-Kamal Juz
31 halaman 318 Nomor 6831.
·
Usman bin hakim: ditemukan
didalam kitab Tahzib al-Kamal Juz
91 halaman 355 Nomor 3804.
·
Khalid bin salamah: ditemukan
didalam kitab Tahzib al-Kamal Juz
8 halaman 83 Nomor 1619.
·
Musa bin Talhah:
ditemukan didalam kitab Tahzib al-Kamal
Juz 29 halaman 82 Nomor 6269.
·
Zaid bin khariijah:
ditemukan didalam kitab Tahzib al-Kamal
Juz 10 halaman 60. Nomor 2103.
1. Said bin Yahya[5]
- Nama Lengkap : Said
bin Yahya bin Sa’id bin Abban bin Sa’id bin al-‘Ash bin Said bin al-Ash
bin Umayah bin Abdu Syamsi bin ‘Abdu Manaf al-Qurasyi al-Umawi
- Kalangan : Tabi'ul Atba'
kalangan tua
- Kuniyah : Abu
Utsman al-Umawi
- Negeri semasa hidup : baghdad
- Wafat : 249 H
- Nasab :
al-Qurasyi al-Umawi al-baghdadi
Guru-gurunya adalah
sebagai berikut :
·
Abi Badr Syuja’ bin
al-Walid
·
Shillah bin Sulaiman
·
Abdullah bin Idris
·
Abdullah bin Said
al-Umawi
·
Abdullah bin al-Mubarak
·
Ubaid bin Said al-Umawi
·
Muawiyah bin Amr
al-Azdi
·
Waki’ bin Jarah
·
Abu Bakar bin Ayyas
·
Yahya bin Said al-Umawi
Shahib al-Maghazi ialah ayahnya
·
Abi al-Qasim bin Abi
al-Zinad.
Murid-muridnya:
·
Imam Kutub al-Sittah
kecuali Imam Ibnu Majah
·
Ibrahim bin Ishak
al-Harbi
·
Ahmad bin Basyar bin
Abdul Wahab al-Umawi
·
Ahmad bin Bakara-Waraq
·
Abu Ya’la Ahmad bin Ali
al-Matsani
·
Baqi bin Makhlad
al-Andalusi
·
Abdullah bin Ahmad bin
Hambal
·
Abu Hatim Muhammad bin
Idris al-Razi, dll.
Komentar para Ulama’ al-Jarh wa at-Ta’dil:
|
Keterangan :
Dari komentar para
ulama al-Jarh wa at-Ta’dil bahwasanya Said bin Yahya adalah orang yang Atsbat
menurut Ali bin al-Madini, Tsiqah menurut Ibnu hajar al-‘Atsqalani, suduq
menurut Abu Hatim al-Razi, Ibnu Hajar al-Atsqalani dan Ibnu Hibban mengatakan Tsiqat
namun terkadang Said bin Yahya salah dalam mengemukakan hadits. Lambang yang
digunakan adalah Akhbarana, dilihat dari lambang yang digunakan maka hadits
yang diriwayatkan oleh Said bin Yahya adalah Bersambung.
2. Yahya bin said[6]
- Nama Lengkap : Yahya
bin Said bin Aban bin Said bin al-‘Ash bin Said bin al-‘Ash bin Umayah
al-Qurasyi al-Umawi
- Kalangan : Tabi'ul Atba'
kalangan tua
- Kuniyah : Abu
Ayub al-Kufiy
- Negeri semasa hidup : baghdad
dan kufah
- Umur : mencapai
80 tahun.
- Wafat : 249 H
- Nasab :
al-Qurasyi al-Umawi al-baghdadi
Guru-gurunya adalah
sebagai berikut:
·
Isma’il bin Abi Khalid
·
Abi Bardah bin Abdullah
bin Abi Bardah bin Abi Musa al-Asy’ary
·
Sa’d bin Said
al-Anshari
·
Said bin Abban
al-Qurasyi (yang merupakan ayahnya)
·
Abi al-Ambas bin Said
bin Katsir al-Qurasyi
·
Usman bin Hakim bin
Abbad bin Hanif
·
Sulaiman al-A’masy
·
Abdul Malik bin Juraij
·
Ubaidillah bin Umar
al-Umriy
Murid-muridnya adalah
sebagai berikut :
·
Ahmad bin Hambal
·
Ishak bin Rawahaih
·
al-Hasan bin Hammad
Sajadah
·
Hakam bin Hiyam
al-Tsaqafi
·
Hamid bin al-Rabi’
al-khami
·
Dawud bin Rasyid
·
Sa’id bin Muhammad
al-Jurmiy
·
Sa’id bin Yahya bin
Sa’id al-Umawiy
·
Abdul Mutaali bin Abdul
Wahab
·
Abdul Wahab al-Waraq
·
‘Ali bin Hajar al-Sa’di
Komentar para ulama
al-Jarh wa Ta’dil:
|
Keterangan :
Banyak yang mengatakanYahya
bin Said adalah orang yang Tsiqat, namun derajatnya tidak tinggi, laba’sa
bih, at-Tirmizi menyebutkan dalam kitab Ilal al-Kabir sebagaai orang yang
tertuduh dalam hadisnya.
3. Utsman bin Hakim[7]
- Nama Lengkap : Utsman
bin Hakim bin Abbad bin Hanif al-Anshari al-Ausiy al-Ahlafi dengan kuniyah
Abu Sahl al-Madani al-Kufy
- Kuniyah : Utman
bin Hakim al-Ausy
- Negeri semasa hidup : Madinah
- Wafat : 139 H
- Nasab :
Madinah
- Saudaranya
: Hakim bin hakim, Sahlbin Hanif bin dan Utsman bin hanif
- Kakeknya
: Abbad bin Hanif
Guru-gurunya adalah
sebagai berikut :
·
Ibrahin bin Muhammad
bin Hatib,
·
Ishak bin Abdullah bin
Abi Thalhah,
·
Abi Umamah As’ad bin
Sahl bin Hanif,
·
Kharijah bon Zaid bin
Sabit,
·
Khalid bin Salamah
al-Makhzumi,
·
Said bin Jubair,
·
Said bin al-Musayyab,
·
‘Amir bin Said bin Abi
Waqas.
Murid-muridnya adalah
sebagai berikut :
·
Zahir bin Mu’awiyah,
·
Sufyan al-Tsauri,
·
Abu Khalid Sulaiman bin
Hayyan al-Ahmar,
·
Syarik bin Abdillah,
·
Abdullah bin Numair,
·
Umar bin Ali
al-Maqdamy,
·
Isa bin Yunus,
·
Marwan bin Muawiyah,
·
Hasyim bin Basyir,
·
Yahya bin Said
al-Umawy,
·
Ya’la bin Ubaid.
Komentar par ulama
al-Jarh wa Ta’dil:
|
Keterangan :
Dari komentar para
Ulama dapatlah di ketahui bahwa Utman bin Hakim ini adalah perawi yang Tsiqah,
perbedaan dalam penilaian ulama tidak membuat jatuhnya penilaian terhadap Usman
bin Hakim ini, karna di antara mereka tidak ada satupun yang men-jarh Usman bin
Hakim ini. Dari hubungan guru dan murid mereka sama-sama menyebutkan adanya
hubungan itu. Dan merekapun adalah orang yang di angggap tsiqah jadi
ketersambungannya dapat diterima.
4. Khalid bin Salamah[8]
- Nama Lengkap : Khalid
bin Salamah bin al-Ash bin Hisyam bin al-Mughirah bin Abdillah bin Umar
bin Makhzum al-Qurasyi al-Makhzumi
- Kuniyah : Abu
Salamah terkadang dikatakan Abu al-Qasim al-Kufiy yang dikenal dengan
al-Fa’fa’
- Negeri semasa hidup : Kufah
dan Hijaz
- Wafat : 132 H
di desa Wasith
- Nasab :
Kufah
Guru-gurunya adalah
sebagai berikut :
·
Sa’id bin Amru bin
Sa’id bin al-Ash,
·
Sa’id bin al-Musayyab,
·
‘Amir as-Sya’by,
·
Abdullah bin Rafi’
maula Ummi Salamah,
·
‘Urwah bin az-Zubair,
·
Isa bin Thalhah bin
Abdillah,
·
Muhammad bin
Abdurrahman bin al-Haris bin Abi Dlirar al-Musthaliqy,
·
Musa bin Thalhah bin
Ubaidillah,
·
Abi Bardah bin Abi Musa
al-Asy’ary, dan lain sebagainya.
Murid-muridnya adalah
sebagai berikut :
·
Hammad bin Zaid,
·
Zaidah bin Qadamah,
·
Zakariya bin Abi
Zaidah,
·
Sufyan al-Tsaury,
·
Sufyan bin Uyainah,
·
Syu’bah bin al-Hajjaj,
·
Usman bin Hakim
al-Anshari,
·
Muhammad bin Khalid bin
Salamah, dan lain sebagainya.
Komentar par ulama
al-Jarh wa Ta’dil:
|
Keterangan :
Dari komentar para
Ulama yang ada telah nampak bahwasanya tidak ada di antara mereka yang menjarh
Khalid bin Salamah, semua memuji walau Ibnu Hajar agak lebih rendah daripada
yang lainnya namun itu bukanlah suatu kecacatan, jadi perawi ini (Khalid bin
Slamah) diakui sebagai perawi yang tsiqah. Bila dilihat dari hubungan antara
guru dan murid keduanya sama-sama menyebutkan adanya hubungan itu, walau
lambang tahammul wal ada’nya adalah ‘An namun karena perawinya tsiqah
maka ketersambungan sanad diantara keduanya dipercaya dan diakui.
5. Musa bin Talhah[9]
- Nama Lengkap : Talhah
bin Ubaidillah al-Qurasyi at-Taimy
- Kuniyah : Abu Isa juga dikatakan Abu
Muhammad al-Madani
- Negeri semasa hidup : Kufah dan
Madinah
- Ibunya:
Haulah binti al-Qa’qa’ bin Ma’bad bin Zararah bin ‘Adas bin Zaid bin
Abdilllah bin Darim at-Taimy ad-Darimy
- Saudaranya:
Ishak bin Talhah, Aisah binti Talhah, dan Maryam binti Talhah
- Wafat : 103 H
di kufah
- Nasab :
Kufah
Guru-gurunya adalah
sebagai berikut :
·
Hakim bin Hizam,
·
Hamran bin Abban,
·
Zubair bin Awwam,
·
Zaid bin Kharijah,
·
Ayahnya Talhah bin
Abdillah,
·
Usman bin Affan,
·
‘Uqail bin Abi Thalib,
·
Abdullah bin Umar bin
Khatab, dan lain sebagainya.
Murid-muridnya adalah
sebagai berikut :
·
Ibrahim bin Muhajir
al-Bajily,
·
Abu Basyar Bayan bin
Basyar,
·
Hakam bin Utaibah,
·
Hakim bun Jubair
al-Asady,
·
Khalid bin Salamah
al-Fa’fa’,
·
Abu Malik Sa’d bin
Thariq al-Asyja’i dan lain sebagainya.
Komentar par ulama
al-Jarh wa Ta’dil:
|
Keterangan :
Dari penilaian saya
yang berlandaskan komentar para ulama diatas dapatlah diketahui bahwa tidak ada
ulama yang menjarah Musa bin Talhah walau dalam memuji mereka berbeda
tingakatan namun tidak satupun dari mereka mencelanya, oleh sebab itu dapatlah
dikatakan bahwa Musa bin Talhah ini termasuk dari periwayat yang tsiqah. Dari
segi ketersambungan sanad dia dengan gurunya ataupun dengan muridnya, sama-sama
memiliki hubungan, dan dapat disimpulkan bahwasanya Musa bin Talhah ini adalah
orang yang tsiqah walau Tahammul wal ada’ nya menggunakan lambang An, nemun
terjamin ketersambungannya.
6. Zaid bin Kharijah[10]
- Nama Lengkap : Zaid
bin Kharikah bin Abi Zahir bin malik al-Anshari
- Keturunan
: Bani al-Kharij bin al-Khazraj, dan dia termasuk dari Sahabat
Rasulullah saw ,.
- Wafatnya Zaid
bin Kharikah bin Abi Zahir bin malik al-Anshari tidak diketahui.
Murid-muridnya adalah
sebagai berikut :
·
Dalam kitab Tahzibul
Kamal fi asma’ ar-Rijal hanya disebutkan satu muridnya yaitu Musa bin Thalhah
Berdasarkan kaidah Assahabatu
Kulluhu ‘Udul maka penulis tidak meneliti jarh dari sahabat ini. Tapi ada
juga diantara ulama jarh wa ta’dil memberikan komentarnya seperti dibawah ini :
Komentar par ulama
al-Jarh wa Ta’dil:
|
Dilihat dari hubungan
guru dan murid maka Zaid bin Kharijah dan Musa bin Talhah sanadnya bersambung,
walau mereka menggunakan lambang ‘An yang tingkat akurasinya rendah namun
karena mereka ini adalah orang yang tsiqah dan sahaby ketersambungan sanad
merekapun dapat dipercaya dan diakui.
[2] A.J Winsinck, Mu’jam al-Mufahras li alfadz
al-hadis an-Nabawi, (Leiden: Bril, 1936, Juz-1), h, 390.
[3] Abi Abdur Rahman Ahmad bin Sya’ib bin ‘Ali an-Nasai, Sunan
An-Nasai, Muhammad Nasiruddin al-Albani, al-Riyadh: Maktabh al-Ma’arif
cet-1, 1417 H. Kitab al-Sahwi bab ke 52 hlm,210, Hadits No 1292.
[4] Ahmad bin
Muhammad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, disyarahkan dan di bukukan
oleh Ahmad Muhammad Syakir, al-Qahirah, (Dar al-Hadits: cet-1, 1995., Juz,2), h,
340 hadits ke 1714.
[5]
Jamaluddin Abi
al-Hajjaj Yusuf al-Mizzy, Tahzib al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal (Beirut:
Muassasah ar-Risalah, 1983) J.,XI h.,104
[6]
Jamaluddin Abi
al-Hajjaj Yusuf al-Mizzy, Tahzib al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal (Beirut:
Muassasah ar-Risalah, 1983) J.,XXXI h.,318
[7]
Jamaluddin Abi
al-Hajjaj Yusuf al-Mizzy, Tahzib al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal (Beirut:
Muassasah ar-Risalah, 1983) J.,XCI h.,355
[8] Jamaluddin Abi
al-Hajjaj Yusuf al-Mizzy, Tahzib al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal (Beirut:
Muassasah ar-Risalah, 1983) J.,VIII h.,83
[9] Jamaluddin Abi
al-Hajjaj Yusuf al-Mizzy, Tahzib al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal (Beirut:
Muassasah ar-Risalah, 1983) J.,XXIX h.,82
[10] Jamaluddin Abi
al-Hajjaj Yusuf al-Mizzy, Tahzib al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal (Beirut:
Muassasah ar-Risalah, 1983) J.,Xh.,60
Belum ada Komentar untuk "Takhrij Hadits "صَلُّوا عَلَيَّ وَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ""
Posting Komentar