Takhrij Hadits "صَلُّوا عَلَيَّ وَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ"


TAKHRIJ AL-HADITS
 
A.                Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an dan al-Hadis merupakan dua sumber pokok ajaran Islam yang datang secara universal dan berangsur-angsur. Ajaran-ajaran keduanya sangat erat kaitannya dengan kondisi dan situasi kemunculannya, sehingga dalam memahami al-Qur’an dan al-Hadis membutuhkan pemahaman secara komprehensif. Salah satu metode yang ditempuh dalam memahami keduanya adalah metode tematik.
Meskipun keduanya menjadi sumber utama ajaran Islam dan sama-sama membutuhkan metode tematik dalam memahaminya, akan tetapi menurut penulis, yang sangat perlu dapat perhatian dengan metode tematik ini adalah al-Hadis. Salah satu alasannya karena al-Hadis tidak semuanya qath’i al-wurud (falid dari Rasulullah).[1] Oleh karena itu, dibutuhkan takhrij al-Hadis (pembuktian kefalidan) dan pemahaman yamg mendalam dengan menggunakan berbagai pendekatan, baik secara tekstual, interteks maupun kontekstual. Disamping itu, al-Hadis maudhu’i berguna untuk memperoleh sebuah kesimpulan dan pemahaman yang komperehensif, baik yang terkait dengan definisi, maksud dan hukum yang dikandungnya.
Untuk mengetahui aplikasi metode maudhu’i, ditetapkanlah judul sebagai sarana penerapan metode tersebut dalam masalah ini adalah Hadits Nabi yang menyeru kita untuk bersholawat kepada Nabi dan bersungguh-sungguh dalam berdo’a, seperti hadits berikut ini :
صلوا علي واجتهدوا في الدعاء
Artinya: “bacalah sholawat padaku dan bersungguh-sungguhlah dalam berdo’a.”

Dalam hal ini penulis akan membicarakan sekaligus meneliti tentang hadits tentang Hadits Nabi yang menyeru kita untuk bersholawat kepada Nabi dan bersungguh-sungguh dalam berdo’a. Sebagai insan akademis, penulis tidak langsung menyimpulkan dari maksud hadits-hadits tersebut secara spekulatif maupun secara logis, tetapi penulis lebih tertarik untuk mengkajinya terlebih dahulu secara ilmiah sehingga bisa menyimpulkan hadits tersebut bisa digunakan atau tidak sebagai dalil. Kajian ini di dalam ilmu Al-Hadits dinamakan Takhrij Al-Hadits.

B.                 Pembahasan
Hadits :
صَلُّوا عَلَيَّ وَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ
            Saya mencari hadits ini di dalam kitab al-Mu’jam al-Mufahras dengan manggunakan lafadz “jahada”, dan kami menemukannya pada Juz 1, huruf  “Jim”, halaman 390  dan mendapati hadits tersebut dalam dua kitab hadits yaitu[2]:
 
·         Dalam Sunan an-Nasai, Kitab سهو bab ke-52.
 
أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأُمَوِيُّ فِي حَدِيثِهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ مُوسَى بْنِ طَلْحَةَ قَالَ سَأَلْتُ زَيْدَ بْنَ خَارِجَةَ قَالَ أَنَا سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ صَلُّوا عَلَيَّ وَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ وَقُولُوا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ( رواه النساء )[3]
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Sa'id bin Yahya bin Sa'id Al Umawi dalam haditsnya dari Bapaknya dari 'Utsman bin Hakim dari Khalid bin Salamah dari Musa bin Thalhah dia berkata; aku bertanya kepada Zaid bin Kharijah lalu dia menjawab; "Aku bertanya kepada Rasulullah Shalallah 'Alaihi Wa Sallam, maka beliau bersabda: "Bershalawatlah kepada Rasulullah Shalallah 'Alaihi Wa Sallam, sungguhlah dalam berdoa, lalu ucapkanlah, 'ALLAHUMMA SHALLI 'ALA MUHAMMADIN WA'ALAA AALII MUHAMMAD' (Ya Allah, curahkanlah kesejahteraan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad).”
 
·         Dalam Musnad Ahmad bin Hambal, Juz-1 halaman 199.
 
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ بَحْرٍ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ حَكِيمٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ سَلَمَةَ أَنْ عَبْدَ الْحَمِيدِ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ دَعَا مُوسَى بْنَ طَلْحَةَ حِينَ عَرَّسَ عَلَى ابْنِهِ فَقَالَ يَا أَبَا عِيسَى كَيْفَ بَلَغَكَ فِي الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مُوسَى سَأَلْتُ زَيْدَ بْنَ خَارِجَةَ عَنْ الصَّلَاةِ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ زَيْدٌ :إِنِّي سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِنَفْسِي فَقُلْتُ كَيْفَ الصَّلَاةُ عَلَيْكَ قَالَ صَلُّوا وَاجْتَهِدُوا ثُمَّ قُولُوا اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ( رواه احمد بن حنبل )[4]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Bahr telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin Hakim telah menceritakan kepada kami Khalid bin Salamah bahwa Abdul Hamid bin Abdurrahman mengundang Musa bin Thalhah ketika sedang mengadakan walimah putranya. Dia berkata; "Wahai Abu Isa, apa yang engkau ketahui tentang shalawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam?" Maka Musa menjawab; Aku bertanya pada Zaid bin Kharijah tentang shalawat pada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka Zaid menjawab: Saya bertanya sendiri kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam; "Bagaimanakah cara shalawat kepada anda?" Beliau menjawab: "Shalatlah kalian dan bersungguh-sungguhlah, kemudian ucapkanlah: ALLAHUMMA BARIK 'ALA MUHAMMADIN WA 'ALA ALI MUHAMMAD KAMAA BAARAKTA 'ALA IBRAHIIM INNAKA HAMIIDUM MAJIID. (Ya, Allah berilah berkah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkah kepada Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Maha Terpuji dan Maha Perkasa)."
 

Perawi dari jalur Nasa’i :
·         Said bin yahya bin said al-umawi ditemukan didalam kitab Tahzib al-Kamal Juz 11 halaman 104 Nomor 2377.
·         Yahya bin said: ditemukan didalam kitab Tahzib al-Kamal Juz 31 halaman 318 Nomor 6831.
·         Usman bin hakim: ditemukan didalam kitab Tahzib al-Kamal Juz 91 halaman 355 Nomor 3804.
·         Khalid bin salamah: ditemukan didalam kitab Tahzib al-Kamal Juz 8 halaman 83 Nomor 1619.
·         Musa bin Talhah: ditemukan didalam kitab Tahzib al-Kamal Juz 29 halaman 82 Nomor 6269.
·         Zaid bin khariijah: ditemukan didalam kitab Tahzib al-Kamal Juz 10 halaman 60. Nomor 2103.

1.      Said bin Yahya[5]
  • Nama Lengkap : Said bin Yahya bin Sa’id bin Abban bin Sa’id bin al-‘Ash bin Said bin al-Ash bin Umayah bin Abdu Syamsi bin ‘Abdu Manaf al-Qurasyi al-Umawi
  • Kalangan : Tabi'ul Atba' kalangan tua
  • Kuniyah : Abu Utsman al-Umawi
  • Negeri semasa hidup : baghdad
  • Wafat : 249 H
  • Nasab : al-Qurasyi al-Umawi al-baghdadi
Guru-gurunya adalah sebagai berikut :
·         Abi Badr Syuja’ bin al-Walid
·         Shillah bin Sulaiman
·         Abdullah bin Idris
·         Abdullah bin Said al-Umawi
·         Abdullah bin al-Mubarak
·         Ubaid bin Said al-Umawi
·         Muawiyah bin Amr al-Azdi
·         Waki’ bin Jarah
·         Abu Bakar bin Ayyas
·         Yahya bin Said al-Umawi Shahib al-Maghazi ialah ayahnya
·         Abi al-Qasim bin Abi al-Zinad.

Murid-muridnya:
·         Imam Kutub al-Sittah kecuali Imam Ibnu Majah
·         Ibrahim bin Ishak al-Harbi
·         Ahmad bin Basyar bin Abdul Wahab al-Umawi
·         Ahmad bin Bakara-Waraq
·         Abu Ya’la Ahmad bin Ali al-Matsani
·         Baqi bin Makhlad al-Andalusi
·         Abdullah bin Ahmad bin Hambal
·         Abu Hatim Muhammad bin Idris al-Razi, dll.
Komentar para Ulama’ al-Jarh wa at-Ta’dil:

ULAMA
KOMENTAR
Ali bin al-Madini
Atsbat
Ibnu hajar al-‘Atsqalani
Tsiqat namun terkadang salah
Adz-Dzahabi
Tsiqah
Abu Hatim al-Razi
Suduq
Ibnu Hibban
Menyebutnya dalam kitab al-Tsiqat
Keterangan :
Dari komentar para ulama al-Jarh wa at-Ta’dil bahwasanya Said bin Yahya adalah orang yang Atsbat menurut Ali bin al-Madini, Tsiqah menurut Ibnu hajar al-‘Atsqalani, suduq menurut Abu Hatim al-Razi, Ibnu Hajar al-Atsqalani dan Ibnu Hibban mengatakan Tsiqat namun terkadang Said bin Yahya salah dalam mengemukakan hadits. Lambang yang digunakan adalah Akhbarana, dilihat dari lambang yang digunakan maka hadits yang diriwayatkan oleh Said bin Yahya adalah Bersambung.


2.      Yahya bin said[6]
  • Nama Lengkap : Yahya bin Said bin Aban bin Said bin al-‘Ash bin Said bin al-‘Ash bin Umayah al-Qurasyi al-Umawi
  • Kalangan : Tabi'ul Atba' kalangan tua
  • Kuniyah : Abu Ayub al-Kufiy
  • Negeri semasa hidup : baghdad dan kufah
  • Umur : mencapai 80 tahun.
  • Wafat : 249 H
  • Nasab : al-Qurasyi al-Umawi al-baghdadi
Guru-gurunya adalah sebagai berikut:
·         Isma’il bin Abi Khalid
·         Abi Bardah bin Abdullah bin Abi Bardah bin Abi Musa al-Asy’ary
·         Sa’d bin Said al-Anshari
·         Said bin Abban al-Qurasyi (yang merupakan ayahnya)
·         Abi al-Ambas bin Said bin Katsir al-Qurasyi
·         Usman bin Hakim bin Abbad bin Hanif
·         Sulaiman al-A’masy
·         Abdul Malik bin Juraij
·         Ubaidillah bin Umar al-Umriy

Murid-muridnya adalah sebagai berikut :
·         Ahmad bin Hambal
·         Ishak bin Rawahaih
·         al-Hasan bin Hammad Sajadah
·         Hakam bin Hiyam al-Tsaqafi
·         Hamid bin al-Rabi’ al-khami
·         Dawud bin Rasyid
·         Sa’id bin Muhammad al-Jurmiy
·         Sa’id bin Yahya bin Sa’id al-Umawiy
·         Abdul Mutaali bin Abdul Wahab
·         Abdul Wahab al-Waraq
·         ‘Ali bin Hajar al-Sa’di

Komentar para ulama al-Jarh wa Ta’dil:

ULAMA
KOMENTAR
Ibnu Hibban
Menyebutnya dalam kitab al-Tsiqat
Ibnu Hajar
Shuduq
Al-Daruqutni
Tsiqat
Abu Hatim al-Razi
Suduq
Yahya bin Ma’in
orang yang berkata benar, Laisa bihi Ba’sun, dan sesekali ia Tsiqah
Abu Dawud al-Sijistani
Laba’sa bih Dan Tsiqah
At-Tirmizi
menyebutnya dalam kitab Ilal al-Kabir dan dia juga menyebutnya sebagaai orang yang tertuduh dalam hadisnya

Keterangan :
Banyak yang mengatakanYahya bin Said adalah orang yang Tsiqat, namun derajatnya tidak tinggi, laba’sa bih, at-Tirmizi menyebutkan dalam kitab Ilal al-Kabir sebagaai orang yang tertuduh dalam hadisnya.

3.      Utsman bin Hakim[7]
  • Nama Lengkap : Utsman bin Hakim bin Abbad bin Hanif al-Anshari al-Ausiy al-Ahlafi dengan kuniyah Abu Sahl al-Madani al-Kufy
  • Kuniyah : Utman bin Hakim al-Ausy
  • Negeri semasa hidup : Madinah
  • Wafat : 139 H
  • Nasab : Madinah
  • Saudaranya : Hakim bin hakim, Sahlbin Hanif bin dan Utsman bin hanif
  • Kakeknya : Abbad bin Hanif

Guru-gurunya adalah sebagai berikut :
·         Ibrahin bin Muhammad bin Hatib,
·         Ishak bin Abdullah bin Abi Thalhah,
·         Abi Umamah As’ad bin Sahl bin Hanif,
·         Kharijah bon Zaid bin Sabit,
·         Khalid bin Salamah al-Makhzumi,
·         Said bin Jubair,
·         Said bin al-Musayyab,
·         ‘Amir bin Said bin Abi Waqas.

Murid-muridnya adalah sebagai berikut :
·         Zahir bin Mu’awiyah,
·         Sufyan al-Tsauri,
·         Abu Khalid Sulaiman bin Hayyan al-Ahmar,
·         Syarik bin Abdillah,
·         Abdullah bin Numair,
·         Umar bin Ali al-Maqdamy,
·         Isa bin Yunus,
·         Marwan bin Muawiyah,
·         Hasyim bin Basyir,
·         Yahya bin Said al-Umawy,
·         Ya’la bin Ubaid.

Komentar par ulama al-Jarh wa Ta’dil:

ULAMA
KOMENTAR
Al-Bukhari
Memiliki sekitar 20 hadits.
Abu Hatim al-Razi
Tsiqah
Ibnu Hibban
Menyebutnya dalam kitab al-Tsiqat
Yahya bin Main
Tsiqah
Ibnu Hajar al-Atsqalani
Tsiqah
Abu Dawud al-Sijistani
Tsiqah
Ahmad ibnu Hambal
Tsiqah Tsabat

Keterangan :
Dari komentar para Ulama dapatlah di ketahui bahwa Utman bin Hakim ini adalah perawi yang Tsiqah, perbedaan dalam penilaian ulama tidak membuat jatuhnya penilaian terhadap Usman bin Hakim ini, karna di antara mereka tidak ada satupun yang men-jarh Usman bin Hakim ini. Dari hubungan guru dan murid mereka sama-sama menyebutkan adanya hubungan itu. Dan merekapun adalah orang yang di angggap tsiqah jadi ketersambungannya dapat diterima.

4.      Khalid bin Salamah[8]
  • Nama Lengkap : Khalid bin Salamah bin al-Ash bin Hisyam bin al-Mughirah bin Abdillah bin Umar bin Makhzum al-Qurasyi al-Makhzumi
  • Kuniyah : Abu Salamah terkadang dikatakan Abu al-Qasim al-Kufiy yang dikenal dengan al-Fa’fa’
  • Negeri semasa hidup : Kufah dan Hijaz
  • Wafat : 132 H di desa Wasith
  • Nasab : Kufah
Guru-gurunya adalah sebagai berikut :
·         Sa’id bin Amru bin Sa’id bin al-Ash,
·         Sa’id bin al-Musayyab,
·         ‘Amir as-Sya’by,
·         Abdullah bin Rafi’ maula Ummi Salamah,
·         ‘Urwah bin az-Zubair,
·         Isa bin Thalhah bin Abdillah,
·         Muhammad bin Abdurrahman bin al-Haris bin Abi Dlirar al-Musthaliqy,
·         Musa bin Thalhah bin Ubaidillah,
·         Abi Bardah bin Abi Musa al-Asy’ary, dan lain sebagainya.

Murid-muridnya adalah sebagai berikut :
·         Hammad bin Zaid,
·         Zaidah bin Qadamah,
·         Zakariya bin Abi Zaidah,
·         Sufyan al-Tsaury,
·         Sufyan bin Uyainah,
·         Syu’bah bin al-Hajjaj,
·         Usman bin Hakim al-Anshari,
·         Muhammad bin Khalid bin Salamah, dan lain sebagainya.

Komentar par ulama al-Jarh wa Ta’dil:

ULAMA
KOMENTAR
Abu Hatim ar-Razi
Dia seorang Syeh yang ditulis haditsnya
Ibnu Hibban
Menyebutnya dalam kitab al-Tsiqat
Ahmad ibnu Hambal
Tsiqah
az-Zahaby
Tsiqah
Ibnu Hajar al-Atsqalani
Seorang yang Shuduq.
Yahya bin Main dan Ibnu al-Madiny
Tsiqah

Keterangan :
Dari komentar para Ulama yang ada telah nampak bahwasanya tidak ada di antara mereka yang menjarh Khalid bin Salamah, semua memuji walau Ibnu Hajar agak lebih rendah daripada yang lainnya namun itu bukanlah suatu kecacatan, jadi perawi ini (Khalid bin Slamah) diakui sebagai perawi yang tsiqah. Bila dilihat dari hubungan antara guru dan murid keduanya sama-sama menyebutkan adanya hubungan itu, walau lambang tahammul wal ada’nya adalah ‘An namun karena perawinya tsiqah maka ketersambungan sanad diantara keduanya dipercaya dan diakui.
5.      Musa bin Talhah[9]
  • Nama Lengkap : Talhah bin Ubaidillah al-Qurasyi at-Taimy
  • Kuniyah : Abu Isa juga dikatakan Abu Muhammad al-Madani
  • Negeri semasa hidup : Kufah dan Madinah
  • Ibunya: Haulah binti al-Qa’qa’ bin Ma’bad bin Zararah bin ‘Adas bin Zaid bin Abdilllah bin Darim at-Taimy ad-Darimy
  • Saudaranya: Ishak bin Talhah, Aisah binti Talhah, dan Maryam binti Talhah
  • Wafat : 103 H di kufah
  • Nasab : Kufah
Guru-gurunya adalah sebagai berikut :
·         Hakim bin Hizam,
·         Hamran bin Abban,
·         Zubair bin Awwam,
·         Zaid bin Kharijah,
·         Ayahnya Talhah bin Abdillah,
·         Usman bin Affan,
·         ‘Uqail bin Abi Thalib,
·         Abdullah bin Umar bin Khatab, dan lain sebagainya.

Murid-muridnya adalah sebagai berikut :
·         Ibrahim bin Muhajir al-Bajily,
·         Abu Basyar Bayan bin Basyar,          
·         Hakam bin Utaibah,
·         Hakim bun Jubair al-Asady,
·         Khalid bin Salamah al-Fa’fa’,
·         Abu Malik Sa’d bin Thariq al-Asyja’i dan lain sebagainya.

Komentar par ulama al-Jarh wa Ta’dil:

ULAMA
KOMENTAR
Abu Hatim ar-Razi
Menyebutnya sebagai anak dari Talhah yang paling utama setelah muhammad.
Ibnu Hibban
Menyebutnya dalam kitab al-Tsiqat
Ahmad ibnu Hambal
Laba’sa bih.
Ibnu Hajar al-Atsqalani
Tsiqah
az-Zahabi
Tsiqah
Al-Bukhari
Menyebutnya dalam kitab al-Ausath
Muhammad bin Sa’d
Tsiqah dan banyak meriwayatkan hadits

Keterangan :
Dari penilaian saya yang berlandaskan komentar para ulama diatas dapatlah diketahui bahwa tidak ada ulama yang menjarah Musa bin Talhah walau dalam memuji mereka berbeda tingakatan namun tidak satupun dari mereka mencelanya, oleh sebab itu dapatlah dikatakan bahwa Musa bin Talhah ini termasuk dari periwayat yang tsiqah. Dari segi ketersambungan sanad dia dengan gurunya ataupun dengan muridnya, sama-sama memiliki hubungan, dan dapat disimpulkan bahwasanya Musa bin Talhah ini adalah orang yang tsiqah walau Tahammul wal ada’ nya menggunakan lambang An, nemun terjamin ketersambungannya.

6.      Zaid bin Kharijah[10]
  • Nama Lengkap : Zaid bin Kharikah bin Abi Zahir bin malik al-Anshari
  • Keturunan : Bani al-Kharij bin al-Khazraj, dan dia termasuk dari Sahabat Rasulullah saw ,.
  • Wafatnya Zaid bin Kharikah bin Abi Zahir bin malik al-Anshari tidak diketahui.

Murid-muridnya adalah sebagai berikut :
·         Dalam kitab Tahzibul Kamal fi asma’ ar-Rijal hanya disebutkan satu muridnya yaitu Musa bin Thalhah

Berdasarkan kaidah Assahabatu Kulluhu ‘Udul maka penulis tidak meneliti jarh dari sahabat ini. Tapi ada juga diantara ulama jarh wa ta’dil memberikan komentarnya seperti dibawah ini :

Komentar par ulama al-Jarh wa Ta’dil:

ULAMA
KOMENTAR
Ibnu Hibban
Menyebutnya dalam kitab ats-Tsiqat dan menyatakan dia adalah sahabat perang badar
Ibnu hajar al-Asqalani
menyebutnya sebagai sahabat perang badar dan meninggal pada masa pemeritahan Usman bin Affan

Dilihat dari hubungan guru dan murid maka Zaid bin Kharijah dan Musa bin Talhah sanadnya bersambung, walau mereka menggunakan lambang ‘An yang tingkat akurasinya rendah namun karena mereka ini adalah orang yang tsiqah dan sahaby ketersambungan sanad merekapun dapat dipercaya dan diakui.



[1] Arifuddin Ahmad, Paradigma Baru Memahami Hadis Nabi (Cet. I; Jakarta: Renaisan, 2005), h. 1-2.
[2] A.J Winsinck, Mu’jam al-Mufahras li alfadz al-hadis an-Nabawi, (Leiden: Bril, 1936, Juz-1), h, 390.
[3] Abi Abdur Rahman Ahmad bin Sya’ib bin ‘Ali an-Nasai, Sunan An-Nasai, Muhammad Nasiruddin al-Albani, al-Riyadh: Maktabh al-Ma’arif cet-1, 1417 H. Kitab al-Sahwi bab ke 52 hlm,210, Hadits No 1292.
[4] Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, disyarahkan dan di bukukan oleh Ahmad Muhammad Syakir, al-Qahirah, (Dar al-Hadits: cet-1, 1995., Juz,2), h, 340 hadits ke 1714.
[5] Jamaluddin Abi al-Hajjaj Yusuf al-Mizzy, Tahzib al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1983) J.,XI h.,104
[6] Jamaluddin Abi al-Hajjaj Yusuf al-Mizzy, Tahzib al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1983) J.,XXXI h.,318
[7] Jamaluddin Abi al-Hajjaj Yusuf al-Mizzy, Tahzib al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1983) J.,XCI h.,355
[8] Jamaluddin Abi al-Hajjaj Yusuf al-Mizzy, Tahzib al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1983) J.,VIII h.,83
[9] Jamaluddin Abi al-Hajjaj Yusuf al-Mizzy, Tahzib al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1983) J.,XXIX h.,82
[10] Jamaluddin Abi al-Hajjaj Yusuf al-Mizzy, Tahzib al-Kamal fi Asma’ ar-Rijal (Beirut: Muassasah ar-Risalah, 1983) J.,Xh.,60

Belum ada Komentar untuk "Takhrij Hadits "صَلُّوا عَلَيَّ وَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ""

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel