Ketika Ramadhan Tinggal Menghitung Hari dan Kenangan Ayah Kembali Menyapa

-Syakroni bin Abdullah Umar-Muhammad Ilham bin Syakroni-

Ramadhan perlahan menapaki hari-hari terakhirnya. Waktu terasa berjalan begitu cepat, seakan baru kemarin kita menyambut datangnya bulan suci ini dengan penuh harap. Namun kini, tanpa terasa, kita telah berada di hari ke-22 Ramadhan, sebuah fase ketika bulan yang penuh berkah ini mulai memberi isyarat lembut bahwa perpisahan semakin mendekat.

Pada titik ini, hati seringkali menjadi lebih lembut. Ada rasa syukur karena masih diberi kesempatan merasakan Ramadhan hingga hari-hari terakhirnya. Namun di saat yang sama, ada pula perasaan haru yang perlahan hadir, sebab kita tahu Ramadhan tidak lama lagi akan pergi.

Ramadhan selalu datang membawa rahmat dan keberkahan, tetapi ia juga selalu meninggalkan jejak kenangan yang mendalam. Bagi sebagian orang, hari-hari akhir Ramadhan bukan hanya tentang memperbanyak ibadah, tetapi juga tentang mengingat orang-orang tercinta yang dahulu pernah menemani Ramadhan, namun kini telah tiada.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengingatkan bahwa kehidupan ini berjalan dalam ketetapan waktu yang telah ditentukan.

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, kemudian kepada Kami-lah kamu dikembalikan." (QS. Al-‘Ankabut: 57)

Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan di dunia hanyalah perjalanan sementara. Orang-orang yang kita cintai, yang dahulu duduk bersama di meja sahur, yang dahulu berjalan bersama menuju masjid untuk tarawih, satu per satu akan dipanggil kembali oleh Allah. Di hari-hari seperti ini, kenangan itu sering datang tanpa diminta. 

Teringat sosok ayah, yang dahulu membangunkan sahur dengan suara yang lembut. Yang mengingatkan untuk tidak meninggalkan shalat berjamaah di masjid. Yang diam-diam mengajarkan makna kesabaran dan ketulusan dalam menjalani hidup.

Kini, ketika Ramadhan hampir mencapai penghujungnya, kenangan itu terasa semakin hidup.

Sahur masih ada.
Tarawih masih berlangsung.
Takbir kemenangan sebentar lagi akan berkumandang.

Namun ada satu hal yang terasa berbeda: sebagian orang yang dahulu menemani Ramadhan kita kini hanya tinggal dalam doa dan kenangan.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita bahwa ketika seseorang telah wafat, hubungan kita dengannya tidaklah terputus sepenuhnya. Amal doa dari anak yang saleh tetap akan sampai kepadanya.

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

"Apabila manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim)

Maka ketika Ramadhan telah sampai pada hari ke-22 seperti sekarang ini, barangkali salah satu ibadah yang paling indah adalah menghadiahkan doa untuk orang-orang tercinta yang telah lebih dahulu kembali kepada Allah.

Mendoakan ayah.
Mendoakan ibu.
Mendoakan keluarga yang telah mendahului kita.

Sebab boleh jadi, di alam sana mereka sangat menanti doa yang lahir dari hati anak-anaknya.

Di sisi lain, hari ke-22 Ramadhan juga mengingatkan kita bahwa waktu Ramadhan semakin sedikit. Hari-harinya tinggal menghitung. Malam-malam kemuliaan sedang berjalan satu demi satu.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَالْفَجْرِ ۝ وَلَيَالٍ عَشْرٍ

"Demi fajar, dan demi malam yang sepuluh." (QS. Al-Fajr: 1–2)

Sebagian ulama menafsirkan ayat ini sebagai isyarat tentang kemuliaan malam-malam tertentu yang penuh keberkahan. Karena itu, sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sendiri memberikan teladan dengan meningkatkan ibadahnya pada hari-hari terakhir Ramadhan.

كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ الأَوَاخِرُ أَحْيَا اللَّيْلَ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ وَشَدَّ مِئْزَرَهُ

"Apabila telah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan, Nabi menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hari ke-22 Ramadhan seperti sebuah pengingat yang lembut: Ramadhan tidak lama lagi akan pergi.

Maka jangan biarkan sisa hari-hari ini berlalu tanpa makna.

Perbanyaklah tilawah Al-Qur’an.
Perbanyaklah istighfar.
Perbanyaklah doa.

Dan jangan lupa menghadiahkan doa untuk orang-orang tercinta yang telah lebih dahulu kembali kepada Allah.

Sebab boleh jadi, suatu hari nanti kita pun akan dikenang dengan cara yang sama. Anak-anak kita akan duduk di malam Ramadhan, mengingat sahur yang pernah kita lalui bersama, lalu mengangkat tangan mereka untuk berdoa.

Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada ayah dan kepada seluruh orang tua kita.

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

"Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangiku ketika aku masih kecil."

Semoga Ramadhan yang tinggal menghitung hari ini benar-benar menjadi Ramadhan yang menguatkan iman, melembutkan hati, dan mempererat doa kita kepada orang-orang yang kita cintai. (Anak Ayah)

Belum ada Komentar untuk "Ketika Ramadhan Tinggal Menghitung Hari dan Kenangan Ayah Kembali Menyapa"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel