Silaturahmi yang penuh hikmah mengantarkan kita pada jalan kesadaran diri
Di malam yang indah (Jum'at malam sabtu, 18/07/25), langkah kaki ini digerakkan ke sebuah rumah yang memancarkan wibawa dan kehangatan. Rumah Datuk H. Fachruddin Razi, akrab disapa Tukning atau Pakning Rozi, bukan hanya tempat berteduh bagi raganya, tapi juga bagi jiwa-jiwa yang haus akan petuah bijak. Saya datang untuk bersilaturahmi, namun pulang membawa lebih dari sekadar senyum perpisahan. Saya pulang dengan bekal yang menyala di dalam hati.
Duduk di ruang tamu yang bersahaja, Tukning membuka percakapan dengan kelembutan khas orang tua adat yang penuh kebijaksanaan. Tak lama, arah pembicaraan masuk ke dalam hal yang begitu menyentuh: tentang ilmu dan kesombongan. Dengan bahasa yang mengalir namun dalam, beliau menuturkan bagaimana pengetahuan lahiriah atau dzohir, jika tidak dibarengi dengan kesadaran batin, bisa menjerumuskan seseorang pada keangkuhan. “Kadang-kadang,” ujar beliau pelan namun tegas, “karena kita rasa tahu, kita jadi tak bisa lagi menerima... padahal ilmu itu luas, dan banyak yang tersembunyi dari pandangan dzohir.”
Beliau lalu menceritakan sebuah kisah yang sangat akrab dalam tradisi Islam, kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir ‘alaihissalam. Di situ, terangkum betapa ilmu tidak hanya milik yang terlihat dan terdengar, tapi juga milik yang tersembunyi dan hanya bisa dipahami dengan bimbingan ilahiyah. Nabi Musa yang luar biasa tinggi ilmunya pun harus belajar untuk bersabar dan rendah hati di hadapan seorang hamba Allah yang memiliki pengetahuan khusus. Sebuah kisah yang ketika disampaikan oleh Tukning, seolah tak lagi menjadi cerita masa lampau, tetapi teguran halus untuk saya yang masih gemar mengukur segalanya dengan akal dan logika semata.
Dalam kesempatan itu pula, Tukning menyampaikan pesan penting yang menyentuh relung jiwa: bahwa setiap prestasi akan melahirkan prestise, dan di sanalah ujian sesungguhnya dimulai. Prestasi adalah buah dari ilmu, kerja keras, dan pengorbanan. Ia layak disyukuri, bahkan dibagikan untuk memberi manfaat kepada orang lain.
Namun, prestise yang muncul setelahnya, yakni kehormatan, pengakuan, dan rasa bangga yang menyertainya, seringkali menjadi ruang yang rawan. Ketika prestise itu tidak dikelola dengan hati yang rendah, ia bisa berubah menjadi jebakan batin. Kita merasa lebih tinggi dari orang lain. Kita ingin selalu dipandang, dihormati, bahkan disanjung. Padahal, hakikat dari ilmu dan pencapaian adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memuliakan sesama, bukan untuk meninggikan ego. “Kalau tidak hati-hati,” ujar beliau, “kita bisa terjebak mencintai prestise lebih dari proses meraih prestasi itu sendiri.” Kalimat itu menancap tajam di kesadaran. Bahwa yang semula kita kejar untuk kebaikan, bisa berubah menjadi alat pembuktian diri yang semu.
Tak ketinggalan, beliau juga menyentuh persoalan filsafat, bukan untuk dibanggakan sebagai intelektual, tapi sebagai sarana berpikir yang benar. “Berfilsafat itu bagus,” katanya, “asal jangan menjadikan filsafat sebagai alasan untuk mempertanyakan semua hal tanpa landasan iman.” Ia mengingatkan bahwa berpikir mendalam adalah anugerah, tapi harus dibingkai dalam kesadaran bahwa akal pun punya batas, dan di atas segala logika manusia ada hikmah Allah yang jauh lebih agung.
Tentunya saya yang datang hanya bisa diam merenung. Tak banyak kata, karena hati saya sedang sibuk bercermin. Dalam pertemuan yang tidak lebih dari beberapa jam itu, Tukning menyampaikan pesan yang barangkali butuh seumur hidup untuk benar-benar dijalani: bahwa ilmu bukan untuk meninggikan diri, tapi untuk merendahkan hati di hadapan kebenaran.
Silaturahmi saya malam ini bukan hanya mempererat tali batin, tetapi juga membuka ruang perenungan yang luas. Rumah tukning, yang semula hanya tampak sebagai tempat kunjungan, berubah menjadi semacam majelis ilmu yang teduh. Di sana saya belajar, bukan dari buku, tapi dari ketulusan tutur dan kedalaman jiwa seorang tua yang telah lama menapaki jalan hikmah.
Kini, rasa-rasanya setiap kali kaki ini melangkah kembali ke dunia yang ramai, hati akan selalu teringat: bahwa jalan menuju kesadaran diri kadang bermula dari silaturahmi yang sederhana, namun berbuah hikmah yang tak ternilai.



Belum ada Komentar untuk "Silaturahmi yang penuh hikmah mengantarkan kita pada jalan kesadaran diri"
Posting Komentar